Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas <p style="color: #000000; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan was first published in 2000 with frequency twice a year (June and December) by Sekolah Tinggi Teologi SAAT (<a style="color: #007ab2;" href="https://www.seabs.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Southeast Asia Bible Seminary</a>), Jalan Bukit Hermon No. 1, Malang 65151, Indonesia (Tel: 0341-559400, 559401, Fax: 0341-559402; Email: veritas@seabs.ac.id).</p> <p style="color: #000000; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan is a double-blind peer-reviewed and open-access journal that focuses on the novelty in the field of biblical studies, systematic theology and practical theology which aims to contribute to theological studies and ecclesial ministry.&nbsp;The articles submitted in this journal include the results of quantitative and/or qualitative field research, conceptual and critical studies, exegesis or exposition material, case studies and other forms of original thought in the broad scope of theological research with adequate references.</p> <p style="color: #000000; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan has been accredited by the decree of the General Director of Strengthening Research and Development of The Republic of Indonesia Ministry of Research, Technology and Higher Education <a style="color: #007ab2;" href="https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/Certificate" target="_blank" rel="noopener">Number 36/E/KPT/2019.</a></p> Sekolah Tinggi Teologi SAAT en-US Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 1411-7649 <p>Manuscripts received for publication are copyright of Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan. Requests to print part or all of the parts must be made to the Editor. The request is not needed if the copy is used for research, lectures, class discussions, personal websites or institutional repositories, but must still include references from Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan.</p> Front Matter https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/345 David Alinurdin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-31 2019-12-31 18 2 i ii Back Matter (Daftar Mitra Bestari dan Indeks) https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/346 David Alinurdin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-31 2019-12-31 18 2 205 207 Tinjauan Kritis-Multifaset Terhadap Tuduhan Genosida Atas Catatan Penaklukan Kuno Tanah Perjanjian https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/332 <p>Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan suatu tinjauan kritis-multifaset terhadap tuduhan bahwa Allah Yudeo-Kristen telah memerintahkan genosida kepada bangsa Israel dalam penaklukan Tanah Perjanjian. Sehubungan dengan itu, penulis mencoba memikirkan ulang apa yang dipersoalkan secara esensial dalam tuduhan tersebut dan membedah tuduhan tersebut dalam tiga faset meliputi faset terminologi hukum, penafsiran, dan moral-filosofis. Dengan menganalisis kriteria genosida di dalam hukum internasional, penulis berargumen bahwa catatan penaklukan kuno Tanah Perjanjian di Perjanjian Lama tidak memenuhi kriteria ini sehingga penaklukan ini secara keliru telah diklasifikasikan sebagai genosida. Penulis juga mengumpulkan beberapa contoh kekeliruan penafsiran terhadap catatan penaklukan Tanah Perjanjian. Penulis menyetujui bahwa bahasa figuratif-hiperbol merupakan sebuah perangkat sastra yang umum dalam catatan penaklukan kuno dan ideologi perang dipandang sebagai penghukuman ilahi dalam pandangan dunia Timur Dekat Kuno. Kemudian, penulis mengambil Yosua 9-11 sebagai sebuah studi kasus biblikal untuk menunjukkan jurang sejarah-budaya antara konteks Timur Dekat Kuno dari catatan penaklukan dengan konteks kekinian kita. Pada faset terakhir, penulis secara ringkas berargumen bahwa ada pendekatan yang lebih kontekstual yang berdasarkan argumen moral teistik ketimbang tuduhan kaum Ateis Baru.</p> <p><em>The purpose of this article is to deliver a critical-multifaceted review against the accusation that the Judeo-Christian God has commanded genocide to Israelites in the conquest of the Promised Land. Correspondingly, I try to reconsider what matters essentially in the accusation and dissect the accusation into three facets, included legal terminology, interpretive and moral-philosophical facets. By analyzing the criteria of genocide in international law, I argue that the ancient conquest account of the Promised Land in Old Testament dissatisfies these criteria, thus the conquest was incorrectly classified as genocide. I also gather some examples of misinterpretation of the conquest account of the promised land. I agree that the figurative-hyperbolic language as a common literary feature in the ancient conquest account and the ideology of war viewed as the divine retribution in ancient near eastern worldview. Then, I take Joshua chapters 9-11 as a biblical case study to demonstrate historical-cultural gaps between the ancient near eastern context of the conquest account and our present context. In the last facet, I tersely argue that there is a more contextual approach based on theistic moral argument instead of the New Atheist accusation.</em></p> Hendra Yohanes ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-11-28 2019-11-28 18 2 107 123 10.36421/veritas.v18i2.332 Rancangan Praksis Pendidikan Kristen Berbasis Keluarga Beriman dari Generasi ke Generasi https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/331 <p>Fakta di hampir setiap cabang ilmu, termasuk teologi praktika di bidang pendidikan Kristen, menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dengan praktek, seolah-olah praktek itu tidak dapat dilakukan menurut teorinya, padahal teori berfungsi sebagai fondasi untuk membangun praktek. Maka dari itu, teori dan praktek harus terpadu dalam satu kesatuan yang disebut praksis. Praksis yang dilakukan akan efektif, sebab jelas tujuannya, esensinya, lingkupnya, dan strateginya. Ini merupakan hal krusial yang perlu dilakukan oleh para pendidik Kristen. Namun dalam merancang sebuah praksis bukanlah perkara mudah. Dalam meresponi hal ini, penulis menyajikan sebuah rancangan praksis pendidikan Kristen yang dibangun di atas kajian teologis dan historis dari teologi perjanjian (<em>theology of covenant</em>) tentang pendidikan Kristen berbasis keluarga beriman dan dilengkapi dengan rekomendasi praktis demi mengestafetkan perjanjian Tuhan dari generasi ke generasi. Diharapkan rancangan praksis ini akan mendorong setiap praktisi pendidikan Kristen untuk membangun praksis secara pribadi.</p> <p><em>Facts in almost every branch of science, including practical theology in the field of Christian education, show that there is a gap between theory and practice as if the practice cannot be carried out according to its theory, even though theory serves as a foundation for building practice. Therefore, theory and practice must be integrated into a single unit called praxis. The praxis done will be effective, because it is clear in terms of its purpose, essence, scope, and strategy. This is a crucial thing that needs to be done by Christian educators. However, designing a praxis is not an easy matter. In response to this, the author presents a praxis draft of Christian education, that is built on theological and historical studies of the theology of covenant in the light of Christian education of faith-based families and is equipped with practical recommendations for the preservation of God's covenant from generation to generation. It is hoped that this praxis design will encourage every practitioner of Christian education to build personal praxis.</em></p> Tan Giok Lie ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-02 2019-12-02 18 2 125 140 10.36421/veritas.v18i2.331 Pendekatan Interpretasi Teologis Kitab Suci dan Prasuposisi-Prasuposisi Teologis di Baliknya https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/330 <p>Cukup banyak tokoh dan tulisan yang berupaya memperkenalkan, mendiskusikan, dan menunjukkan cara kerja pendekatan Interpretasi Teologis Kitab Suci atau yang lebih dikenal sebagai <em>Theological Interpretation of Scripture</em> (TIS), tetapi tidak banyak yang sebenarnya menbedah pemikiran-pemikiran teologis-filosofis di baliknya.&nbsp; Tulisan ini akan memperkenalkan natur, esensi, dan karakteristik khas pendekatan TIS melalui beberapa konviksi pembentuk yang melatarbelakanginya, yang dapat diibaratkan sebagai “DNA” bagi pendekatan TIS dan sekaligus membedakannya dari pendekatan-pendekatan tafsir lainnya.&nbsp; Pendekatan TIS agaknya paling baik dipahami sebagai pembacaan yang dilakukan di dalam dua konteks, yaitu konteks teologis dan ekklesial.&nbsp; Dalam konteks teologis, pendekatan TIS percaya bahwa Kitab Suci sebagai tulisan yang bersifat sakral, Kitab Suci adalah medium komunikasi Ilahi kepada umat di sepanjang sejarah bahkan hingga hari ini, Kitab Suci memiliki kesatuan dalam seluruh bagiannya dengan Yesus Kristus sebagai pusat dan pengikat, dan Kitab Suci paling baik dibaca dengan kesadaran akan lensa teologis pembacanya.&nbsp; Dalam konteks ekklesial, pendekatan TIS menekankan keimaman rajani seluruh anggota tubuh Kristus sebagai pembaca teks, keniscayaan komunitas di dalam pembacaan, dan fungsi normatif teks yang bertujuan menghasilkan transformasi dalam kehidupan umat.</p> <p><em>There are plenty of figures and writings that attempt to introduce</em>, <em>discuss</em>, <em>and show the workings of</em> <em>Theological Interpretation of Scripture</em> (<em>TIS</em>) <em>as an approach in reading the Holy Scripture</em>; <em>however, not many that actually dissect the theological-philosophical thoughts laid behind it</em>. <em>This paper will discuss the nature</em>, <em>essence</em>, <em>and characteristics of the TIS approach through some of the forming convictions behind it</em>,<em> which can be said as</em> "<em>DNA</em>" <em>for the TIS approach and at the same time,</em> <em>differentiates it from other interpretive approaches</em>. <em>The TIS approach seems best understood as a reading that happened in two contexts</em>, <em>namely theological and ecclesial contexts</em>. <em>In a theological context</em>, <em>the TIS approach believes that the Scripture is a sacred writing</em>, <em>the Scripture is a medium of divine communication to people throughout history even today</em>, <em>the Scripture has a unity in all its parts with Jesus Christ as the center and binding</em>, <em>and the Scripture is best read with an awareness of theological lenses of the reader. In an ecclesial context</em>, <em>the TIS approach emphasizes the royal priesthood of all members of the body of Christ as readers of the text</em>, <em>the necessity of the community of believers in reading</em>, <em>and the normative function of the text aimed at producing transformation in the lives of the people of God</em>.</p> Carmia Margaret ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-02 2019-12-02 18 2 141 160 10.36421/veritas.v18i2.330 Selibat atau Menikah?: Petunjuk-Petunjuk Menentukan Pilihan Berdasarkan Studi Eksposisional 1 Korintus 7 https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/341 <p>Pergulatan batin memutuskan untuk menikah atau selibat merupakan pergumulan sebagian jemaat Tuhan, khususnya anak-anak muda.&nbsp; Memilih satu dari dua pilihan tersebut kadang menjadi sulit dengan beberapa kompleksitas yang ada, salah satunya karena kurangnya pemahaman akan prinsip-prinsip Alkitab berkaitan dengan isu ini.&nbsp; Sebagian orang percaya kurang mengerti petunjuk-petunjuk Alkitabiah yang dapat membantu mereka dalam masa menggumulkan untuk menikah atau selibat.&nbsp; Sementara pergumulan ini terus berlanjut, data menyatakan bahwa tingkat kelajangan meningkat kuantitasnya baik secara global dan nasional.&nbsp; Baik akan menikah maupun selibat, keputusan untuk menentukan hal tersebut menurut Paulus haruslah berdasarkan pada karunia masing-masing.&nbsp; Tulisan ini akan memaparkan petunjuk-petunjuk yang dapat dipelajari dari nasihat Paulus dalam 1 Korintus 7 untuk mengambil keputusan soal status hidup, khususnya selibat.</p> <p><em>The inner struggle to decide whether to marry or be celibate is a struggle for some Christians, especially young people. Choosing one of these two options can be difficult with some complexity, one of which is due to a lack of understanding of Bible’s principles related to this issue. Some believers do not understand the biblical instructions that can help them in their struggle to be married or celibate. While this struggle continues, data shows that quantity level of singleness is increasing globally in the world and in Indonesia itself. Either to be married or celibate, the decision to determine between these two options, according to Paul, must be based on their gift.&nbsp; This paper will explain the instructions that can be learned from Paul's advice in 1 Corinthians 7 to make decisions about the status of life, especially celibacy.</em></p> Elisabeth Natallina ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-19 2019-12-19 18 2 161 174 10.36421/veritas.v18i2.341 Hubungan antara Kelekatan Pemuda-Orang Tua dan Dukungan Iman Orang Tua dengan Religiositas Intrinsik pada Pemuda Gereja-Gereja Injili di Bandung https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/321 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yaitu ada atau tidaknya hubungan antara kelekatan pemuda-orang tua dan dukungan iman orang tua dengan religiositas intrinsik pada pemuda di gereja-gereja injili di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 226 pemuda-pemudi usia 18-29 tahun dan belum menikah di 8 gereja injili di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelekatan pemuda-ibu dengan religiositas intrinsik pada pemuda. Kelekatan pemuda-ayah tidak ditemukan berhubungan dengan religiositas intrinsik, demikian juga dengan dukungan iman orang tua.&nbsp;</p> <p><em>This study aims to find answers to research questions, namely whether or not there is a relationship between parental attachment and faith support with intrinsic religiosity of emerging adults from evangelical churches in Bandung. The research method used is quantitative by distributing questionnaires to 226 youth aged 18-29 years and not married in 8 evangelical churches in Bandung. The results showed a significant relationship between youth-mother attachment with intrinsic religiosity of youth. Youth-father attachment was not found to be related to intrinsic religiosity, nor was parental support of faith.</em></p> Linda Christine Setiawati Aileen P. Mamahit Sylvia Soeherman ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-19 2019-12-19 18 2 175 201 10.36421/veritas.v18i2.321 The Function of Exorcism Stories in Mark’s Gospel https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/343 Liu Wisda ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2019-12-19 2019-12-19 18 2 203 203 10.36421/veritas.v18i2.343