Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas <p style="color: #000000; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan was first published in 2000 with frequency twice a year (June and December) by Sekolah Tinggi Teologi SAAT (<a style="color: #007ab2;" href="https://www.seabs.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Southeast Asia Bible Seminary</a>), Jalan Bukit Hermon No. 1, Malang 65151, Indonesia.</p> <p style="color: #000000; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan is a double-blind peer-reviewed and open-access journal that focuses on the novelty in the field of biblical studies, systematic theology, and practical theology which aims to contribute to theological studies and ecclesial ministry.&nbsp;The articles submitted in this journal include the results of quantitative and/or qualitative field research, conceptual and critical studies, exegesis or exposition material, case studies and other forms of original thought in the broad scope of theological research with adequate references.</p> <p style="color: #000000; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan has been accredited third highest rank by the decree of&nbsp;the Minister of Research and Technology/National Agency for Research and Innovation of the Republic of Indonesia Number <a href="https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/Certificate" target="_blank" rel="noopener">85/M/KPT/2020</a>.</p> Sekolah Tinggi Teologi SAAT en-US Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 1411-7649 <p>Manuscripts received for publication are copyright of Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan. Requests to print part or all of the parts must be made to the Editor. The request is not needed if the copy is used for research, lectures, class discussions, personal websites or institutional repositories, but must still include references from Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan.</p> Front Matter https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/375 David Alinurdin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-06-13 2020-06-13 19 1 COVID-19 dan Tumit Achilles Iman Kristen https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/373 <p>Awal tahun 2020 ditandai dengan satu peristiwa yang mengejutkan seluruh dunia. Virus Corona baru yang merebak di Wuhan, China sejak akhir 2019, secara masif mulai menyebar ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia, menjadi sebuah pandemi yang disebut COVID-19 (<em>Corona Virus Disease</em> 2019). Umat manusia di seluruh dunia dihadapkan pada satu kondisi yang mengejutkan dan meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan. Bukan hanya kekuatiran akan penderitaan fisik yang diakibatkan oleh COVID-19, namun juga seluruh aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, hingga religiositas dan spiritualitas manusia menjadi terganggu. Masalah penderitaan dapat diumpamakan seperti "tumit Achilles" bagi iman Kristen atau dengan kata lain sebagai titik lemah dari iman Kristen. Manusia sudah bergumul selama berabad-abad untuk menjawab pertanyaan bagaimana mungkin Allah yang baik dan penuh kasih mengizinkan kejahatan dan penderitaan sedemikian merajalela di dalam dunia ciptaan-Nya, dan hingga hari ini masih terus bergumul dengan pertanyaan yang sama. Terlebih lagi saat ini ketika melihat kondisi dunia yang porak-poranda akibat pandemi COVID-19, di antara kita mungkin ada yang bertanya apakah Allah sungguh ada? Apakah Dia Allah yang berdaulat yang masih terus bertindak di dalam dunia ini ataukah Dia sudah lepas tangan? Apakah Dia Allah yang baik dan peduli terhadap penderitaan yang terjadi di dalam dunia? Jika Dia Allah yang mahabaik, mengapa Dia menciptakan dunia ini dengan virus patogen yang menyebabkan penyakit mematikan? Lalu, bagaimanakah kita sebagai umat Allah dapat berkarya menyatakan kehadiran-Nya yang mahakuasa dan mahabaik itu secara konkret kepada dunia yang sedang bergumul saat ini? Beberapa pertanyaan krusial di atas akan didiskusikan dan dijawab dalam editorial ini.</p> David Alinurdin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-06-08 2020-06-08 19 1 1 9 10.36421/veritas.v19i1.373 Back Matter https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/376 David Alinurdin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-06-13 2020-06-13 19 1 Kehadiran Tuhan di Tengah Umat-Nya: Dari Penciptaan ke Penciptaan yang Baru https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/361 <p>Di dalam studi dan teologi biblika, pertanyaan yang didiskusikan sampai dewasa ini adalah apakah tema atau motif Alkitab yang dapat mempersatukan alur cerita dari PL sampai PB? Artikel ini mengusulkan motif kehadiran Tuhan sebagai jawabannya, yakni kehadiran Allah yang berdiam di antara umat-Nya. Tuhan yang rindu untuk dekat dengan umat-Nya dengan menyatakan kehadiran di tempat-tempat kudus di sepanjang catatan Alkitab. Dengan menggunakan studi kata, studi intertekstual dalam kanon Alkitab, dan studi ekstrabiblika; artikel ini menunjukkan bahwa kehadiran-Nya dipusatkan di tempat-tempat kudus yang didirikan-Nya di dalam dunia ini mulai dari Taman Eden pada penciptaan yang pertama, Kemah Suci, Bait Allah, gereja, sampai kepada penciptaan langit dan bumi yang baru. Artikel ini bertujuan menyajikan suatu gambaran alkitabiah tentang kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya dan implikasinya bagi kehidupan Kristiani.</p> <p><em>In biblical studies and biblical theology, a central question still discussed until today is the following: what theme or motif can unify the biblical storyline from OT to NT? This article proposes that the motif of the presence of God, who indwells among His people, as the answer. God, who desires to be near to His people, reveals His presence in holy places across biblical accounts. By using word studies, intertextual studies in the canonical bible, and extrabiblical studies, this article demonstrates that God's revealing of His presence focused in holy places that He established in this world, began from the Garden of Eden in the first creation and extended through the Tabernacle, the Temple, the Church, to the creation of the new heaven and earth. The purpose of this article is to present a biblical overview of the presence of God among His people and its implications for the Christian life.</em></p> Martus Adinugraha Maleachi Hendra Yohanes ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-05-16 2020-05-16 19 1 11 24 10.36421/veritas.v19i1.361 Allah versus Setan Laplace: Sebuah Usulan Konsep Tindakan Ilahi Khusus yang Trinitarian, Kovenantal dan Saintifik https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/340 <p>Dalam dekade terakhir, interaksi sains dan teologi dalam upaya membangun konsep tindakan ilahi di dalam dunia natural telah sampai pada satu kesimpulan untuk mencari titik temu kausal di mana Allah Pencipta yang transenden dan nonfisik dapat bertindak di dalam proses-proses natural yang terjadi di dalam dunia ciptaan. Sebuah gerakan akademis yang diakui kredibilitasnya dalam usaha menemukan titik temu kausal dengan cara-cara baru yang memasukkan penafsiran filosofis dari sains kekinian ke dalam teologi adalah <em>Divine Action Project</em> (DAP), yang merumuskan sebuah teori tindakan ilahi yang disebut NIODA (<em>Noninterventionist Objective Divine Action</em>). NIODA berusaha mencari lokus tindakan ilahi khusus yang tidak bertentangan dengan hukum alam yaitu di dalam proses-proses fisik yang dapat ditafsirkan sebagai indeterminisme secara ontologis, seperti mekanika kuantum. Tulisan ini akan mengkaji asumsi-asumsi filosofis di balik NIODA dan memperlihatkan bahwa konsep ini dapat diterima secara saintifik namun tidak memadai secara teologis karena masih terikat dengan asumsi Laplace warisan zaman pencerahan yang menganggap alam semesta ini tertutup secara kausal bagi tindakan ilahi. Karena itu, di bagian terakhir, tulisan ini juga akan mengusulkan beberapa poin penting dalam upaya membangun sebuah konsep tindakan ilahi yang memadai secara teologis maupun saintifik, yang dibangun di atas fondasi teologi penciptaan yang trinitarian dan kovenantal.</p> <p><em>In the last decade, the interaction between science and theology in the effort to develop the concept of divine action in the natural world has come to a conclusion to find a causal joint where transcendent and nonphysical Creator God can act in natural processes that occur in the world of creation. An academic movement whose credibility has been recognized in its efforts to find a causal joint in new ways that incorporate philosophical interpretations of contemporary science into theology is the Divine Action Project (DAP), which formulates a concept of divine action called NIODA (Noninterventionist Objective Divine Action). NIODA seeks to find a locus of special divine action that does not conflict with laws of nature in physical processes that can be interpreted as ontological indeterminism, such as quantum mechanics. This paper will examine the philosophical assumptions behind NIODA and show that this concept is scientifically acceptable but not theologically adequate because it is still bound by Laplace's assumption of the enlightenment's legacy which considers the universe to be causally closed to divine action. Therefore, in the last part, this paper will also propose several important points in the effort to develop a concept of special divine action that is both theologically and scientifically adequate, built on the basis of a trinitarian and covenantal biblical theology of creation.</em></p> David Alinurdin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-05-18 2020-05-18 19 1 25 49 10.36421/veritas.v19i1.340 Menjawab Tuduhan Inkoherensi dari John Hick terhadap Konsep Dwinatur dalam Doktrin Inkarnasi Ortodoks https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/344 <p>Dalam berbagai tulisannya, John Hick menyatakan bahwa kekristenan harus memikirkan ulang mengenai pernyataan keilahian Yesus sebagai Allah Anak yang berinkarnasi. Dalam pandangannya, dwinatur dalam diri Yesus adalah hal yang tidak dapat dipahami dengan akal sehat karena kedua natur itu saling berkontradiksi. Sebagai jalan keluar, Hick menawarkan konsep mitologisasi yang menyatakan bahwa inkarnasi Yesus sebagai Allah Anak adalah sebuah mitos belaka. Untuk menjawab hal itu, dalam makalah ini, penulis menggunakan pendekatan logika gabungan: <em>relativity thesis </em>(pernyataan relativitas), <em>natural kind concept </em>(konsep ciri alamiah), dan <em>divine preconscious model</em> (model bawah sadar ilahi). Dengan metode <em>relativity thesis</em>, penulis dapat menunjukkan kesalahan logika tuduhan inkoherensi dari Hick terhadap doktrin inkarnasi ortodoks. Sementara itu, pendekatan <em>natural kind concept</em> dapat membuktikan koherensi dari konsep dwinatur yang ada dalam diri Allah Anak sebagai inkarnasi Allah. <em>Divine preconscious model</em> dapat memberikan pijakan logis mengenai kemanunggalan Pribadi Yesus dengan dua natur yang ada di dalam diri-Nya, yang tidak saling berkontradiksi. Dengan gabungan ketiga pendekatan tersebut makalah ini menyajikan argumen yang kuat untuk membuktikan bahwa doktrin inkarnasi ortodoks bersifat koheren. Dengan demikian, kekristenan tidak perlu memberikan artikulasi ulang terhadap doktrin inkarnasi ortodoks dan juga tidak perlu memaknai doktrin tersebut sebagai sebuah mitos.</p> <p><em>In his writings, John Hick states that Christianity must rethink the claim to the divinity of Jesus as God the Son Incarnate. In his view, the dual-nature in Jesus is something that cannot be understood with common sense because the two natures contradict each other. As a way out, Hick offers the concept of mythologization which states that Jesus' incarnation as God the Son is a myth. To answer that, in this paper, in addition to basing her argument on the biblical statement, the author uses a combined logic approach: relativity thesis, natural kind concept, and divine preconscious model. With the method of relativity thesis, the author can point out the logic errors of incoherent accusations from Hick to the doctrine of the orthodox incarnation. Meanwhile, the natural kind concept approach can prove the coherence of the dual-natures concept that exists in God the Son as an incarnation of God. The Divine preconscious model can provide a logical basis for the unity of the Person of Jesus with the two natures within Him, which do not contradict each other. With the combination of the three approaches, this paper presents a strong argument to prove that the doctrine of the orthodox incarnation is coherent. Thus, Christianity does not need to re-articulate the doctrine of the orthodox incarnation and also do not interpret the doctrine as a myth.</em></p> Fitri Yuliana ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-05-19 2020-05-19 19 1 51 68 10.36421/veritas.v19i1.344 Bukti Penghakiman Allah Yang Adil di dalam 2 Tesalonika 1:3-10 Menurut Pendekatan Analisis Wacana https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/349 <p>Penghakiman Allah yang adil merupakan tema yang penting di dalam 2 Tesalonika. Tema ini memiliki keterkaitan dengan keadaan jemaat Tesalonika yang saat itu sedang terus-menerus mengalami penganiayaan. Makalah ini akan memaparkan bagaimana Paulus mengembangkan tema penghakiman Allah yang adil di 2 Tesalonika 1:3-10 menurut pendekatan Analisis Wacana. Makalah ini juga akan memaparkan bahwa Allah adalah adil dan Allah akan menghakimi setiap orang dengan memberi pembalasan kepada para penindas dan upah kepada setiap orang yang tetap setia kepada Kristus. Untuk itu orang percaya saat ini memiliki penghiburan dan kekuatan ketika mengalami penganiayaan karena iman kepada Yesus Kristus.&nbsp;</p> <p><em>The theme of the righteous judgment of God is an important theme in 2 Thessalonians 1. This theme has a connection with the situation of the Thessalonians who were currently undergoing persecution. This paper will explain how Paul developed the theme of God's righteous judgment in 2 Thessalonians 1:3-10 by using the discourse analysis approach. This paper will explain that a righteous God will judge everyone by punishing the oppressors and rewarding the believers. Discourse analysis is used in this paper because it is an approach that can provide a stronger foundation when analyzing a text and provides objective criteria when investigating the problem of a text. The purpose of this paper is to encourage believers to have comfort and strength when experiencing persecution because a righteous God will judge every human being.</em></p> Alexander Darmawan Limasaputra ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-05-21 2020-05-21 19 1 69 84 10.36421/veritas.v19i1.349 Merupa Wujud Evangelikalisme di Indonesia: Suatu Usulan Awal https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/339 <p>Artikel ini merupakan suatu usulan awal untuk mengejawantahkan bagaimana rupa “muka publik” dari gerakan injili di Indonesia. Artikel ini akan membahas siapakah kaum injili di Indonesia, ka-rakteristik teologis dari kaum injili, dan wujud usulan partisipasi gerakan injili di Indonesia. Karakteristik teologis dari kaum injili yang penulis usulkan adalah modifikasi dari Quadrilateral Bebbington, yaitu Pentagram Larsen. Sebagai dampaknya, artikel ini ingin mengusulkan dua gerakan dari merupa wujud gerakan injili di Indonesia, yaitu gerakan ke dalam dan gerakan keluar. Gerakan ke dalam ini merupakan semangat gereja untuk terus mereformasi diri, sedangkan gerakan ke luar ini merupakan semangat gereja untuk mereformasi kondisi sosial. Inilah suatu usulan awal dari merupa wujud gerakan injili di Indonesia.</p> <p><em>This article was written as a preliminary opinion to explore the "public face" of evangelicalism as a movement in Indonesia. Furthermore, this article will discuss who&nbsp;are the evangelicals in Indonesia, the theological characteristics&nbsp;from the evangelicals, and the form of evangelical's participation in Indonesia. The writer will argue that the modification from Bebbington's Quadrilateral, Larsen's Pentagram, can be theological characteristics from the evangelicals in Indonesia. As a consequence, this article will propose two ways of movements from evangelicalism in Indonesia, which are the inward and outward movements. The inward movement is the spirit of the evangelical church to reform itself, while the outward flow is the eagerness of the evangelical church to reform the social condition. Thus, these are initial observations for shaping evangelicalism in Indonesia.</em></p> Adrianus Yosia ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-05-24 2020-05-24 19 1 85 95 10.36421/veritas.v19i1.339 Panggilan Sosial Gereja Berdasarkan Pelayanan Yesus dalam Lukas 4:18-19: Sebuah Upaya Merevitalisasi Pelayanan Gereja https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/356 <p>Salah satu unsur penting dalam pelayanan gereja yang terabaikan adalah peran sosial gereja untuk mewujudkan kesejahteraan. Padahal warga jemaat berhadapan dengan berbagai isu sosial. Salah satu yang cukup krusial adalah kemiskinan. Dalam upaya merevitalisasi pelayanan gereja, salah satu yang perlu diwujudkan adalah integrasi antara kepedulian sosial dan pelayanan gereja. Artikel ini akan menjelaskan bahwa gereja memiliki panggilan dan tanggung jawab sosial. Fondasi bagi gagasan ini adalah karakteristik pelayanan Yesus yang termuat dalam Lukas 4:18-19, yang merupakan kutipan dari Yesaya 61:1-2; 58:6. Berdasarkan penggunaan Yesaya 61:1-2 yang dikombinasikan dengan Yesaya 58:6, artikel ini menunjukkan bahwa penulis Injil Ketiga memodifikasi kutipan tersebut untuk memperkuat karakteristik sosial dalam pelayanan Yesus. Dimensi sosial pelayanan Yesus merupakan landasan penting untuk membangun pelayanan gerejawi yang memiliki kesadaran sosial untuk membentuk kehidupan umat secara menyeluruh. Dalam menguraikan gagasannya, artikel ini akan menerapkan metode kualitatif yang berorientasi pada studi literatur dan analisis hermeneutika. Adapun pendekatan hermeneutika yang akan diterapkan berfokus pada pembacaan Injil sebagai biografi Yunani-Romawi. Prinsip-prinsip yang umum digunakan dalam metode kritik naratif juga akan diterapkan. Karena adanya kutipan dari Kitab Yesaya, pendekatan hermenutika yang digunakan juga akan menganalisis cara penulis Injil Ketiga menggunakan teks Yesaya tersebut. Artikel ini akan berfokus pada tiga aspek, yaitu karakteristik sosial Injil Ketiga, karakteristik sosial pelayanan Yesus berdasarkan Lukas 4:18-19, dan implikasi dimensi sosial pelayanan Yesus bagi upaya revitalisasi pelayanan gereja.</p> <p><em>One important element that neglected in church ministry is the social responsibility of the church in realizing the well-being of the community. Whereas the congregation is dealing with various social issues. One that is quite crucial is poverty. In an effort to revitalize church ministry, one that needs to be realized is the integration of social care and church ministry. This article will explain that the church has social calling and responsibility. The foundation for this idea is the characteristics of Jesus' ministry conveyed by Luke 4:18-19, which is a quotation from Isaiah 61:1-2; 58:6. Based on the use of Isaiah 61:1-2 combined with Isaiah 58:6, this article shows that the writer of the Third Gospel modified the quotation to strengthen social characteristics in Jesus' ministry. The social dimension of Jesus' ministry is an important foundation for building church ministries that have social awareness to shape the lives of believers holistically. This article will apply qualitative methods that focus on literary study and hermeneutical analysis. The hermeneutical approach applied here focuses on reading the Gospels as Greco-Roman biography. The principles commonly used in narrative criticism will also be applied. Because of the quotation from the Book of Isaiah, this article will also analyze the way the writer of the Third Gospel used the text of Isaiah. This article will focus on three aspects, namely the social characteristics of the Third Gospel, the social characteristics of Jesus' ministry based on Luke 4: 18-19, and the implications of the social dimension of Jesus' ministry for revitalizing church ministry.</em></p> Herry Susanto ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-05-28 2020-05-28 19 1 97 112 10.36421/veritas.v19i1.356 Where is God in a Coronavirus World? https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/365 <p>John Lennox adalah seorang profesor emeritus di bidang matematika dari Universitas Oxford di Inggris, dosen emeritus bidang matematika dan filsafat sains di Green Templeton College serta pengajar di <em>The Oxford Centre for Christian Apologetics</em>. Dalam karir akademisnya, Lennox giat membela iman Kristen di dalam debat-debat publik menghadapi para ateis terkenal seperti Richard Dawkins, Christopher Hitchens dan Peter Singer.</p> <p>Tulisan-tulisan dalam buku ini lahir dari perenungan Lennox terhadap situasi kegelisahan dan kebingungan yang sedang melanda dunia ini&nbsp; akibat pandemi virus Corona. Untuk itu, Lennox mengundang para pembacanya seumpama sedang berdialog dengannya di kafe sambil minum kopi dan bertanya: “Di manakah Allah di tengah dunia yang dilanda virus Corona?” Meskipun ditulis dalam waktu relatif singkat dan dengan jumlah halaman yang tidak banyak, buku ini memberikan wawasan yang cukup secara teologis, historis dan saintifik mengenai pandemi yang sedang terjadi saat ini. Tidak hanya itu, Lennox juga berupaya sensitif terhadap penderitaan yang sedang dihadapi pembacanya dengan menceritakan pengalaman-pengalaman pribadi dan keluarganya ketika menghadapi sakit penyakit.</p> Sandra Wisantoso ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2020-06-13 2020-06-13 19 1 113 116 10.36421/veritas.v19i1.365 The New Testament in Its World: An Introduction to the History, Literature, and Theology of the First Christians https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/362 <p>Buku ini adalah karya yang terbaru dalam genrenya.&nbsp;Namun, buku ini bukan yang terbaru dalam pendekatannya—sejarah, sastra dan teologi, sebab Mark Allan Powell telah menulis pengantar Perjanjian Baru (PB) dengan metode yang sama.&nbsp;Kendati demikian, buku ini unik. Pertama, sebagai buku sederhana atau contoh agar mudah dipahami (<em>reader</em> atau<em> sampler</em>) mengenai pemikiran N.T. Wright. Hal ini tidak terlepas dari usulan Michael F. Bird supaya Wright menulis buku pengantar PB, setelah Wright menulis banyak buku mengenai PB. Kedua, buku ini bertujuan menjadi buku yang handal dan ramah. Handal karena ditulis untuk memahami kekristenan mula-mula dan ramah karena dilengkapi buku kerja, pembelajaran <em>online</em>, bahan video dan audio, serta kurikulum berbasis jemaat. Ketiga, buku ini berusaha menghindar dari beberapa problem umum yang biasa disajikan dalam buku pengantar PB. Bila dipandang perlu, hal mengenai itu telah ditulis dengan teliti, singkat dan mudah dicerna. Ketika menjelaskan masing-masing kitab dalam PB, buku ini memberikan pengantar singkat, diskusi persoalan penting dan kontekstual, garis besar kitab, komentar singkat, dan tips untuk aplikasi dan penyelidikan lebih lanjut.</p> Andreas Hauw ##submission.copyrightStatement## 2020-06-13 2020-06-13 19 1 116 118 10.36421/veritas.v19i1.362