https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/issue/feed Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 2021-07-23T18:51:18+07:00 David Alinurdin veritas@seabs.ac.id Open Journal Systems <p><strong>VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN</strong></p> <p>eISSN: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2684-9194" target="_blank" rel="noopener">2684-9194</a> | pISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1180429944&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">1411-7649</a> | DOI prefix: <a href="https://search.crossref.org/?q=2684-9194&amp;from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">10.36421</a></p> <p>Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan is a peer-reviewed and <a title="Open Access Policy" href="https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/EditorialPolicies#Open%20Access%20Policy" target="_blank" rel="noopener">open-access</a> national journal that published with frequency twice a year (June and December) by <a href="http://sinta.ristekbrin.go.id/affiliations/detail?id=4084&amp;view=overview" target="_blank" rel="noopener">Sekolah Tinggi Teologi SAAT</a> (South East Asia Bible Seminary), Malang City, East Java, Indonesia. The journal specializes in evangelical theology that focuses on the novelty in the field of biblical studies, systematic theology, and practical theology which aims to contribute to theological studies and ecclesial ministry.</p> <p>The articles submitted in this journal include the results of quantitative and/or qualitative field research, conceptual and critical studies, exegesis or exposition material, case studies, and other forms of original thought in the broad scope of theological research with adequate references.</p> <p>Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan has been accredited third highest rank by the decree of the Minister of Research and Technology/National Agency for Research and Innovation of the Republic of Indonesia, number <a href="https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/certificate1" target="_blank" rel="noopener">36/E/KPT/2019</a> for the period 2018-2023, and number <a href="https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/Certificate" target="_blank" rel="noopener">85/M/KPT/2020</a>, for the period 2019-2024.</p> https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/417 Middle Knowledge: Human Freedom in Divine Sovereignty 2021-07-22T10:27:21+07:00 Wilson Jeremiah zwjeremi@tiu.edu <p>Molinism has been gaining traction in various circles within the last few decades as one of the major models for reconciling divine sovereign­ty and human freedom among the Reformed, Arminians, open theists, process theists, and possibly more. Luis de Molina (1535-1600) was thought to popularize the idea that God’s so-called middle knowledge is an additional cate­gory within our typical twofold under­stand­­ing of divine foreknowledge. Thus, middle know­l­edge exists between God’s natural knowledge and free knowledge to conceptualize three logical successions within the Godhead as he creatively decides to decree and actualize the world we see today. Through this somewhat ambitious project to contrast and defend Molinism against other positions, John Laing has written one of the most rigorous and comprehensive treatments of the doctrine of middle knowledge or Molinism. His work is exem­plary in many ways, especially as an evangelical theologian who attempts to fill the gap within evangelical scholarships on Moli­nism.</p> 2021-07-21T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Wilson Jeremiah https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/496 Center Church: Doing Balanced, Gospel-Centered Ministry in Your City 2021-07-22T10:27:13+07:00 Carmia Margaret carmia.margaret95@gmail.com <p>Setiap orang yang menjalankan pelayanan gere­ja dalam kurun waktu yang panjang pasti ber­­tanya apakah pelayanan tersebut sudah berjalan dengan baik, efektif, dan mencapai hasil yang maksimal. Ada dua ekstrem dalam merespons hal ini. Ada yang memandang bahwa pelayanan harus selalu sukses (<em>success­ful</em>) dengan tolok ukur peningkatan jumlah kehadiran, peningkatan jumlah persembahan, bahkan juga peningkatan jumlah orang yang bertobat dan dibaptis. Sebaliknya, ada pula yang secara ekstrem memandang bahwa tolok ukur kesuksesan dari hal-hal yang terlihat se­cara fisik itu tidak dibenarkan, karena nilai ter­penting yang harus dipertahankan adalah ke­se­tiaan (<em>faithfulness</em>) dalam melakukan bentuk-bentuk pelayanan yang sudah ada se­lama ini apa pun dan bagaimana pun hasilnya. Timothy Keller mengatakan bahwa dua pandangan ini sama-sama tidak utuh dan tidak cukup. Tentu saja, pelayanan rohani tidak dapat diukur semata-mata dari fenomena fisik atau hal-hal yang kasat mata, tetapi bukan berarti kompe­tensi dan keunggulan (<em>excellency</em>) dalam se­buah pelayanan adalah hal yang tidak penting. Kita tidak dapat hanya menekankan “kese­tia­an” dalam melakukan hal yang sama berulang-ulang jika memang hasilnya tidak efektif atau bahkan tidak terlihat.</p> 2021-07-21T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Carmia Margaret https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/357 Apologetika Imajinatif: Sebuah Proposal bagi Apologetika dalam Konteks Pascamodern 2021-06-21T14:36:36+07:00 Abel Kristofel Aruan abelkristofel.saat@gmail.com <p>Setelah sekian lama pendekatan apologetika klasik dan evidensial kokoh sebagai cara mempertahankan iman Kristen, pascamodernisme muncul untuk mengkritik penggunaan alat verifikasi absolut terhadap klaim-klaim iman. Kendati demikian, James K. A. Smith dan Alister McGrath melihat pascamodernisme sebagai kawan ketimbang lawan, kesempatan ketimbang tantangan. Karena itu, memperhatikan kritik-kritik penting dari semangat pascamodernisme justru akan menolong gereja menjawab tuntutan pascamodernisme itu sendiri. Artikel ini mengusulkan pendekatan apologetika imajinatif sebagai solusi untuk menjawab kritik tersebut. Berbeda dengan apologetika klasik/evidensial, apologetika ini bertendensi menggunakan imajinasi lebih daripada sebelumnya dalam upaya-upaya mempertanggungjawabkan iman Kristen. Di kala apologetika menerima tuduhan kering dan terkesan mengesampingkan aspek eksistensial yang nyatanya berdiam dalam diri manusia, apologetika imajinatif dapat menjadi usulan solusi untuk menghindari tuduhan ini. Dua implikasi muncul dari penalaran ini. Pertama, dalam dialog-dialog apologetika, seorang <em>apologist</em> harus lebih banyak menggunakan alat-alat retoris imajinatif. Kedua, gereja harus menolong pendengar untuk mendapatkan presentasi imajinatif tentang bagaimana <em>rasanya</em> hidup menjadi seorang Kristen, dengan cara menampilkan kisah kehidupan Kristen sehari-hari kepada mereka. Dengan demikian, alih-alih gereja menggunakan apologetika, gereja adalah apologetika itu sendiri.</p> <p><em>For a long time, classical and evidential apologetics have been firmly established as a way of defending the Christian faith. However, postmodernism appears to criticize the use of absolute verification tools for faith claims. Nevertheless, James K.A. Smith and Alister McGrath see postmodernism as friend rather than foe, opportunity rather than challenge. Therefore, paying attention to important criticisms of the spirit of postmodernism will actually help the church to answer the demands of postmodernism itself. This article proposes an imaginative apologetics approach as a solution to answer this criticism. In contrast to classical/evidential apologetics, this apologetics tends to use imagination more than before in efforts to account for the Christian faith. When apologetics accepts dry accusations and seems to override existential aspects that actually dwell in humans, imaginative apologetics can be a proposed solution to avoid these accusations. Two implications emerge from this reasoning. First, in apologetic dialogues, an apologist must use more imaginative rhetorical tools. Second, the church must help listeners get an imaginative presentation of what it’s like to live as a Christian, by presenting them with stories of everyday Christian life. Thus, instead of the church using apologetics, the church is apologetics itself</em>.</p> 2021-06-15T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Abel Kristofel Aruan https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/408 Optimisme yang Tidak Menjanjikan: Kajian terhadap Transhumanisme dari Perspektif Antropologi Kristen 2021-06-20T12:33:16+07:00 Wendy lim.wendy0309@gmail.com David Alinurdin david.alinurdin@seabs.ac.id <p>Transhumanisme adalah sebuah pergerakan budaya dan filsafat yang melihat manusia memiliki hak dan kebebasan morfologis untuk berevolusi mencapai kondisi pascahuman dengan memodifikasi dan meningkatkan natur serta kapasitas manusia secara radikal menggunakan teknologi terkini seperti rekayasa genetika, robotika, kecerdasan buatan dan nanoteknologi. Pascahuman yang didambakan transhumanisme adalah kondisi manusia yang tidak dapat mengalami kemerosotan, penyakit, dan bahkan kematian. Tujuan akhirnya adalah hidup lebih panjang atau bahkan abadi untuk menikmati kebahagiaan yang tidak terbatas. Dengan mencermati perkembangan agenda transhumanis, muncul keprihatinan dari para sarjana bidang interdisipliner sains, teknologi dan teologi bahwa umat manusia akan diubahkan oleh teknologi atau bahkan malah menjadi tersingkir dan punah. Artikel ini bertujuan mengkaji transhumanisme dari perspektif antropologi Kristen, yang meliputi tiga aspek, yaitu asal-usul dan natur manusia, realitas kehidupan manusia serta solusi bagi masalah manusia. Hasil kajian menunjukkan bahwa janji transhumanisme mengenai evolusi manusia dengan kebebasan morfologis dan determinasi dirinya sendiri dapat mengupayakan perkembangan menuju kondisi pascahuman adalah hal yang tidak menjanjikan untuk tercapai karena natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa cenderung merusak atau menggantikan yang baik menjadi jahat. Agenda dan optimisme transhumanisme untuk menyingkirkan kemerosotan, penyakit dan kematian sepenuhnya dari kehidupan manusia dengan menggunakan teknologi terkini mustahil direalisasikan karena semua realitas tersebut adalah dampak dari kejatuhan manusia ke dalam dosa yang hanya bisa diatasi dengan cara ilahi melalui karya penebusan Kristus yang mengerjakan transformasi jiwa raga secara holistik.</p> <p><em>Transhumanism is a cultural and philosophical movement that sees humans as having the right and morphological freedom to evolve towards a posthuman state by radically modifying and enhancing human nature and capacity using the latest technologies such as genetic engineering, robotics, artificial intelligence, and nanotechnology. The posthuman that transhumanism craves is the human condition impervious to degeneration, disease, and even death. The end goal is to live longer or even immortal to enjoy unlimited happiness. By observing the development of the transhumanist agenda, there are concerns from scholars in the interdisciplinary fields of science, technology, and theology that humanity will be transformed by technology or even become marginalized and extinct. This article aims to examine transhumanism from Christian anthropology, which includes three aspects: the origin and nature of man, the reality of human life, and solutions to human problems. The results of the study show that the promise of transhumanism regarding human evolution with morphological freedom and self-determination to strive for progress towards a posthuman state is unpromising to achieve because human nature, which has fallen into sin, tends to destroy or exchange good for evil. The agenda and optimism of transhumanism to completely remove degeneration, disease, and death from human life by using the latest technology is impossible to realize because all these realities are the impact of the fall of man into sin, which can only be overcome by divine means through redemptive work of Christ which carries out the transformation of soul and body holistically</em></p> 2021-06-16T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Wendy Wendy, David Alinurdin https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/412 “Kafirlah Hukumnya Orang yang Menyembah Tuhan yang Tiga Itu”: Menampik Tuduhan Terkait Problem Doktrin Tritunggal 2021-06-21T15:18:02+07:00 Yudi Jatmiko yudi3036@yahoo.com <p>Tritunggal adalah sebuah doktrin yang amat mendasar dalam iman Kristen. Sekalipun kata “tritunggal” tidak pernah muncul dalam Alkitab, kebenarannya mewarnai sepanjang penulisan Kitab Suci. Walaupun demikian, bukan berarti kebenaran ini diterima begitu saja oleh semua manusia. Dalam konteks Indonesia, yang <em>notabene </em>mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam, ide tentang satu Allah tetapi tiga dan tiga tetapi satu sangat bernuansa politeisme. Kaum muslim sangat menjunjung tinggi konsep monoteisme. Berpijak pada kebenaran monoteisme ini, bagi mereka, ide tentang Tritunggal bukan hanya aneh, tetapi juga harus ditolak dengan keras. Mengamati kedua fakta di atas, penulis melihat perlunya sebuah pembelaan apologetis terhadap tuduhan tersebut. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan tuduhan kaum muslim berkaitan dengan problem teologis dan logis konsep Allah Tritunggal serta menyajikan sebuah pembelaan apologetis yang memadai. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah pembelaan apologetis yang obyektif dengan keyakinan bahwa doktrin Tritunggal bersifat monoteistik (pembelaan teologis) dan, walaupun jauh melampaui akal manusia yang terbatas, Tritunggal tidak irasional (pembelaan logis).&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p><em>Trinity is a fundamental doctrine in the Christian faith. Though the word “trinity” never appears in the Bible, its truth is displayed throughout the entire writing of the Scripture. However, it does not mean that all people accept this truth. In the Indonesian context, whose major population is Islam, the idea of one God but three and three but one is very polytheistic. Muslims highly regard the concept of monotheism. Standing on this monotheistic truth, to them, the idea of Trinity is not just simply weird but must also be vigorously rejected. Observing the above two facts, the author sees the need for apologetic defense from those accusations. This article exerts to describes allegations concerning the theological and logical problems of the Trinity as well as providing adequate apologetic defense. This article aims to present an objective apologetic defense in the belief that the doctrine of Trinity is monotheistic (theological defense), and even though far surpassing the limited human reasoning, Trinity is not irrational (logical defense)</em>.</p> 2021-06-18T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Yudi Jatmiko https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/415 Menyingkap Keagungan Karakter Rut dari dalam Bayang-Bayang: Penerapan Analisis Tokoh dalam Narasi Kitab Rut 2021-06-28T16:38:44+07:00 Kok-Sin Sia koksinsia@sttaletheia.ac.id <p>Artikel ini berupaya untuk menerapkan analisis tokoh utama dalam kitab Rut untuk mengungkapkan keagungan dari karakter Rut dan mengidentifikasi respons pembaca mula-mula. Analisis tokoh dilakukan dengan menggunakan metode dari Richard L. Pratt Jr. yang meliputi pemaparan penokohan, teknik penokohan dan tujuan penokohan, untuk menyelidiki karakter Naomi, Rut dan Boas sebagai tiga tokoh utama dalam kitab ini. Ketiga tokoh utama ini dianalisis dan dibandingkan untuk menemukan tujuan penokohan dalam kitab ini dan berusaha untuk mengidentifikasi respons pembaca mula-mula. Penulis kitab Rut menghadirkan keagungan Rut itu dalam bayang-bayang keasingannya (sebagai perempuan Moab) dan tokoh utama lainnya, seperti Naomi dan Boas. Pembaca kitab Rut diharapkan dapat mengevaluasi kerohanian mereka sebagai umat Allah, oleh karena menemukan adanya perempuan Moab yang justru mempunyai kehidupan yang lebih saleh daripada mereka. Dari pembaca juga diharapkan bangkit kesadaran tentang Allah Israel yang terbuka untuk semua bangsa dan bahwa bangsa-bangsa lain tidak selalu membawa keburukan bagi kehidupan umat Allah.</p> <p><em>This article is an effort to apply the character analysis in the book of Ruth that shows the excellence of Ruth and the response of the original readers. Character analysis was carried out using the method of Richard L. Pratt Jr., which includes the description of characterizations, characterization techniques, and characterization purposes, to investigate the characters of Naomi, Ruth, and Boaz as the three main characters in this book. These three characters are analyzed and compared to find the purpose of characterization and the reader’s response. Through this analysis, we can find that the author of the book of Ruth has a purpose to describe indirectly or subtly the noble character of Ruth in the shadows of her background as a Moabites and the other main characters, Naomi and Boaz. Through the reading of the book of Ruth, the first readers can evaluate their spirituality as God’s people because they find that there is a Moabite woman whose life is godlier than them. It also raises awareness that Israel’s God embraces all nations and that non-Israelites do not always negatively influence God’s people.</em></p> 2021-06-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Kok-Sin Sia https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/419 Diskursus Etika Sosial bagi Kalangan Injili: Mengenal Pemikiran Reinhold Niebuhr melalui The Serenity Prayer 2021-07-02T06:07:07+07:00 Romeo Wibowo romeo.koan@gmail.com <p>Etika sosial bukanlah topik utama di kalangan Kristen injili, sehingga beredar asumsi bahwa orang Kristen injili cenderung pesimis tentang situasi dalam dunia dan karena itu menghindari isu-isu dalam etika sosial. Tulisan ini menawarkan diskursus etika sosial bagi kalangan Kristen injili dengan memperkenalkan pemikiran Reinhold Niebuhr. <em>The Serenity Prayer</em> dipakai sebagai metode untuk membingkai pemikiran Niebuhr. Dalam pandangan Niebuhr manusia memiliki realitas paradoksal di dalam dirinya. Di satu sisi, ia adalah manusia berdosa yang memiliki keterbatasan dalam menerapkan kasih yang murni sebagaimana yang Yesus ajarkan. Di sisi lain, ia adalah gambar Allah yang memiliki kemampuan transendensi diri yang mampu berpikir kreatif untuk menciptakan kebaruan dalam hidupnya. Menyikapi realitas paradoksal ini, Niebuhr memberi saran untuk membangun landasan etika sosial yang realistis (dialektis) sehingga tidak jatuh pada sikap optimisme yang berlebihan apalagi jatuh pada sikap pesimisme yang cenderung fatalistik.</p> <p><em>Social ethics is not a major topic that is often discussed among evangelical Christians</em>.<em> Therefore, arise assumption that evangelical Christians tend to be pessimistic about situations globally and avoid issues in social ethics. This article offers a discourse on social ethics for evangelical Christians by introducing Reinhold Niebuhr’s thoughts. The serenity prayer is used as a method to frame Niebuhr’s thoughts. In Niebuhr’s view, man has a paradoxical reality. He is a sinful man who has limitations in exercising the pure love that Jesus taught. On the other hand, he is an image of God who can self-transcendence and think creatively to create newness in his life. Responding to this paradoxical reality, Niebuhr gave suggestions to build a realistic (dialectical) social ethics foundation that does not fall into an attitude of excessive optimism, let alone fall into an attitude of pessimism that tends to be fatalistic.</em></p> 2021-07-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Romeo Wibowo https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/423 Membangun Penjelasan Dan Sikap Etis Trinitarian Terhadap Kejahatan Natural COVID-19 2021-07-04T20:37:25+07:00 Thio Christian Sulistio christian.sulistio@seabs.ac.id <p> COVID-19 merupakan kejahatan natural yakni kejahatan yang disebabkan oleh proses natural yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya sebagai akibat kejatuhan manusia dalam dosa. Keberadaan COVID-19 sebagai kejahatan natural akan menimbulkan pertanyaan mengapa kejahatan natural dapat ada, untuk apa kejahatan natural ini dan bagaimana akhir dari kejahatan natural ini (problem metafisika kejahatan)? Pertanyaan lain adalah bagaimana respons atau sikap orang-orang percaya terhadap keberadaan kejahatan natural ini (problem moral kejahatan)? Penulis berupaya menjawab dua problem tersebut dengan menggunakan penjelasan trinitarian dari metanarasi Kristen yakni dari sudut providensi Allah, karya Yesus Kristus di salib, dan karya Roh Kudus di dalam gereja Tuhan. Allah di dalam kedaulatan-Nya mengizinkan kejahatan natural COVID-19 untuk kebaikan yang lebih besar. Anak Allah Yesus Kristus mengalahkan kejahatan melalui pelayanan-Nya di bumi dan di Salib. Roh Kudus, yang diutus Bapa dan Anak, menghibur dan memberi kuasa kepada gereja untuk melanjutkan misi Yesus Kristus.</p> <p><em>COVID-19 is a natural evil, namely an evil caused by a natural process that is not functioning properly because of the fall of humans into sins. The existence of COVID-19 as a natural evil will raise the question of why natural evil can exist, what is the purpose of natural evil, and how does this natural evil ends (the metaphysical problem of evil)? Another question is how the response or the attitude of the believers to the existence of this natural evil (the moral problem of evil)? The author tries to answer these two problems by using a trinitarian explanation of Christian metanarrative, namely from the point of God’s providence, the work of Jesus Christ on the cross, and the work of the Holy Spirit in the church. God in his sovereignty permits the natural evil of COVID-19 for the greater good. Jesus Christ, the Son of God, triumph over evil through His ministry on earth and on the cross. The Holy Spirit, sent by the Father and the Son, comforts, and empowers the church to continues the mission of Jesus Christ. </em></p> 2021-07-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Thio Christian Sulistio https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/465 Perjalanan Spiritual Homo Viator: Studi Komparatif Serat Jatimurti dengan Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk. 15:11-32) 2021-07-09T18:49:21+07:00 Robby Igusti Chandra Robbycha@yahoo.com <p>Konsep perjalanan spiritual dikenal pada berbagai agama. Demikian juga konsep <em>Homo Viator</em> atau manusia yang melakukan perjalanan tersebut. Tulisan ini melakukan kajian atas konsep perjalanan spiritual yang ada dalam <em>Serat Jatimurti</em>, salah satu teks Kejawen, dan membandingkannya dengan narasi di Alkitab yaitu perumpamaan tentang anak yang hilang. Tujuan studi ini adalah untuk memahami suara dari spiritualitas lokal tersebut agar mempermudah penyampaian Injil kepada kalangan ini. Dengan menggunakan analisis linguistik kognitif, hasilnya menunjukkan bahwa ada beberapa kesamaan namun juga perbedaan yang kontras dalam pandangan Kristen mengenai perjalanan spiritual dan peran manusia di dalamnya dibandingkan dengan pandangan kejawen tersebut. Kesamaan-kesamaan yang ada akan akan meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap masing-masing karya spiritualitas serta menjadi <em>common ground</em> yang menyediakan “jembatan” efektif bagi pemberitaan Injil. Perbedaan-perbedaan yang ada dapat menjadi daya tarik untuk memperlihatkan keunikan Injil. Dengan pemahaman tersebut, kajian ini dapat memberikan bekal bagi orang Kristen di dalam mengkomunikasikan kabar baik anugerah Allah di dalam Kristus Yesus kepada kalangan penganut spiritualitas kejawen.</p> <p><em>The concept of spiritual journey is known in various religions. Likewise, the concept of Homo Viator or humans who made the trip. This paper examines the concept of a spiritual journey in Serat Jatimurti, one of the Kejawen texts, and compares it with the narrative in the Bible, namely the parable of the prodigal son. This study aims to understand the voice of the local spirituality to facilitate the delivery of the gospel to this community. By using cognitive linguistic analysis, the results show some similarities and differences in the Christian view of the spiritual journey and the role of humans in it compared to the Kejawen view. The similarities that exist will increase un­derstanding and appreciation of each spirituality work and become a common ground that provides an effective “bridge” for sharing the gospel. The differences that exist can be an attraction to show the uniqueness of the gospel. With this understanding, this study can provide provisions for Christians in communicating the good news of God’s grace in Christ Jesus to the followers of Kejawen spirituality.</em></p> 2021-07-09T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Robby Igusti Chandra https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/471 Bilangan 5:11–31: Ritual Sotah sebagai Terobosan Budaya di Timur Tengah Kuno 2021-07-14T16:07:04+07:00 Steven Yong steven@reformedindonesia.ac.id <p>Bilangan 5:11­–31 dapat menimbulkan kecurigaan tentang adanya praktik seksisme, penindasan atau pelecehan terhadap wanita. Hal ini bisa dimengerti jika <em>Mishnah</em> menjadi rujukan yang kemudian dijadikan tolok ukur untuk menafsir bagian Alkitab terkait. Dari penggambaran <em>Mishnah Sotah</em>, wanita yang tertuduh melakukan zina dipermalukan dan diperlakukan hampir sama seperti seorang pelacur. Artikel ini berusaha untuk menunjukkan perspektif yang lain dalam mengerti ritual <em>Sotah</em> dalam Bilangan 5:11–31. Dengan menggunakan metode kajian sosiologis, artikel ini akan mengidentifikasi masalah sosiologis yang dituduhkan terhadap teks Bilangan tersebut berdasarkan penjelasan traktat <em>Sotah</em> dalam <em>Mishnah</em>. Kemudian, posisi wanita dalam dunia Timur Dekat Kuno akan dijelaskan berdasarkan konteks budayanya. Akhirnya, dengan menim­bang inferioritas wanita dalam dunia Timur Dekat Kuno dan perbandingan antara ritual <em>Sotah</em> dalam Alkitab dengan ritual sejenis dan setempat, maka artikel ini berargumen bahwa teks Bilangan 5:11–31 dapat dilihat sebagai terobosan budaya dalam membela wanita yang secara budaya pada masa itu dianggap sebagai kaum yang inferior.</p> <p><em>Numbers 5:11<strong>–</strong>31 could be interpreted as a kind of sexism and repression to women. In the Mishnaic tradition, the passages indeed are being understood and developed in such manner. From tractate Sotah in Mishnah, the suspected adulterous wife indeed is ashamed and treated as a prostitute. This article seeks to present another perspective on the passage. This article uses the sociological study method to identify the sociological problems alleged against the passage based on the explanation of the Sotah tractate in the Mishnah. Afterward, the inferior position of women in the ancient Near East will be explained as a cultural context to understand the passage better. Finally, considering this cultural context and comparing the Sotah ritual with the common rituals in the ancient Near East, this article argues that Numbers 5:11–31 could be seen as a cultural breakthrough to protect women, which are considered marginalized.</em></p> 2021-07-14T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Steven Yong https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/473 J. S. Bach’s Church Cantatas and Church Music Today 2021-07-19T16:28:07+07:00 Mark A. Peters mark.peters@trnty.edu Carolien Eunice Tantra carolien.tantra@seabs.ac.id <p>This article explores the church cantatas of German composer J.S. Bach (1685–1750) as models for how we can think about the practice of faithful worship in the Christian church today. The article begins with an overview of Bach’s vocation as a church musician, in which he served in various contexts throughout his life. The article focuses on Bach’s final calling as a church musician, as music director for the town of Leipzig for the final 27 years of his life. It explains the context of the main Sunday and feast day worship service in Leipzig, with particular attention to the role of the church cantata in this service. The article then presents a general overview of the characteristics of Bach’s church cantatas before exploring in-depth liturgy, text, and music in one particular example, Cantata 104, Du Hirte Israel, höre. It concludes by proposing that a study of J.S. Bach’s church cantatas can teach us lessons of three kinds—practical (how we do church music), creative (how we create art), and spiritual (for ourselves and our congregations)—that we can apply in our churches today.</p> 2021-07-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Carolien Eunice Tantra, Mark Peters https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/505 Front Matter Volume 20 No. 1 2021-07-23T18:49:46+07:00 Toni Afandi toni.afandi@seabs.ac.id 2021-07-23T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Toni Afandi https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/506 Back Matter Volume 20 No. 1 2021-07-23T18:51:18+07:00 Toni Afandi toni.afandi@seabs.ac.id 2021-07-23T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Toni Afandi